Kamis, 25 November 2010

Rekaman Tertulis

REKAMAN TERTULIS DALAM TRADISI MASYARAKAT INDONESIA

Zaman sejarah di Indonesia diawali sejak abad ke-5 M setelah masuknya pengaruh India (Hindu-Budha). Mengenal tulisan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Hal ini dikarenakan dengan tulisan mereka dapat mencatat berbagai peristiwa yang terjadi pada masanya sehingga dapat menyebarkan dan mewariskan berbagai macam tradisi, nilai, kepercayaan, dan budayanya kepada masyarakat di sekitarnya maupun generasi penerus. Bukti-bukti tertulis yang ditinggalkan sehingga dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi selanjutnya, sehingga mereka dapat memahami dan menafsirkan kehidupan generasi terdahulu dan memperkuat akar dan jati diri masyarakat yang bersangkutan. Di antara bukti-bukti tertulis itu terdapat prasasti, kitab-kitab agama, karya-karya sastra dan sebagainya.
1. PRASASTI
Prasasti adalah peninggalan tertulis yang dipahatkan dan dilukiskan pada bahan yang tidak mudah musnah, seperti batu, logam, dan gading.
Pada umumnya prasasti menuliskan suatu peristiwa yang cukup penting pada masa lampau. Prasasti biasanya dibuat atas perintah raja yang berkuasa.
Tujuan pembuatan prasasti adalah untuk mengabadikan suatu peristiwa penting yang dialami oleh seorang raja atau sebuah kerajaan.

Contoh prasasti pada awal perkembangan kebudayaan Hindu-Budha.
a. Prasasti Kutai di Kalimantan Timur
Prasasti berupa tujuh buah yupa(tugu batu) yang diperkirakan berasal dari tahun 400 M, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Sansekerta.
Isinya, peringatan upacara kurban agama Hindu yang diperintahkan oleh Raja Mulawarman, Putra Aswawarman, dan cucu Kudungga.

b. Prasasti Kerajaan Tarumanegara di Jawa BaratPrasasti ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta.
Contohnya: Prasasti Ciaruteun (pahatan telapak kaki dan tulisan), Prasasti Kebon Kopi (pahatan telapak kaki gajah dan tulisan), Prasasti Jambu (pujian terhadap Purnawarman), Prasasti Pasir Awi (memuat syair pujian terhadap Raja Purnawarman), Prasasti Tugu (berita tentang penggalian saluran Sungai Gomati), Prasasti Muara Cianten, Prasasti Cidang Hiang.

c. Prasasti Kerajaan Sriwijaya
Prasasti ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno.
Contohnya: Prasasti Kedukan Bukit (Dapunta Hyang menaklukkan beberapa daerah), Prasasti Talang tuo (perintah Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk), Prasasti Telaga Batu (berisi kutukan kepada siapa saja yang tidak setia pada raja), Prasasti Kota Kapur (berisi permohonan kepada dewa untuk menjaga Sriwijaya dan menghukum para penghianat Sriwijaya).

d. Prasasti Kerajaan Mataram Kuno
Prasasti Canggal (654 Saka/732 M), menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, mengenai pendirian sebuah lingga atas perintah Raja Sanjaya di atas bukit Kunjarakunja.
Prasasti Matyasih (prasasti Kedu) (829 Saka/907 M), berisi tentang raja-raja yang memerintah sebelum Dyah Balitung.
Prasasti Ritihang, berbahasa Jawa Kuno ditulis dengan huruf Pallawa berangka tahun 863 Saka/ 914 M.
e. Prasasti Kerajaan SyailendraPrasasti Kalasan, berangka tahun 700 Saka (778 M), berbahasa Sansekerta, dan ditulis dengan huruf Pra-Nagari.
Prasasti Klurak (dekat Prambanan), berangka tahun 704 Saka (782 M), ditulis dengan bahasa Sansekerta dan huruf Pra-Nagari. Mengenai pembuatan arca Manjusri.

2. KITAB
Kitab merupakan sebuah karya sastra para pujangga pada masa lampau yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengungkap suatu peristiwa di masa lampau. Para pujangga biasanya menulis atas perintah raja. Itulah sebabnya isi tulisannya banyak menulis keagungan dan kebesaran raja yang bersangkutan. Diantara kitab-kitab yang terkenal pada masa kerajaan Hindu-Budha:
1.) Pada zaman Kediri dihasilkan kitab:
· ArjunawiwahaMerupakan karya Mpu Kanwa pada tahun 1030 M, pada masa pemerintahan Airlangga.
Isinya meriwayatkan Arjuna yang bertapa untuk mendapatkan senjata guna keperluan perang melawan Kurawa.
· KresnayanaKarya Mpu Triguna. Memuat riwayat Kresna semasa kecil. Cerita yang mirip dengan Kresnayana adalah cerita dalam kitab Hariwangsa karya Mpu Panuluh, yang digubah pada zaman Raja Jayabaya, dan berisi kisah perkawinan Kresna dengan Dewi Rukhimi.
· SmaradahanaKarya Mpu Dharmaja pada masa Sri Kameswara. Mengisahkan hilangnya suami istri Dewa Kama dan Dewi Ratih karena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.
· BaratayudhaKarya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Isinya tentang peperangan 18 hari antara keluarga Pandawa dan Kurawa.
· GatotkacasrayaKarangan Mpu Panuluh, menceritakan perkawinan Abimanyu, putra Arjuna, dengan Siti Sundhari atas bantuan Gatotkaca, putra Bima.Ditulis pada zaman Raja Jayabaya.

2) Pada zaman Majapahit I· NegarakertagamaDitulis pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk oleh Mpu Prapanca. Mengenai kerajaan Singasari dari masa pemerintahan Ken Arok, raja pertama Singosari hingga Hayam Wuruk.
· Sutasoma
Karangan Mpu Tantular. Menceritakan Sutasoma, putra raja yang kemudian mendalami agama Budha. Dalam kitab ini terdapat kata Bhinneka tunggal ika,tan hana dharma mangrwa. Kata bhinneka tunggal ika inilah yang kemudian menjadi semboyan persatuan kita.
· Arjunawijaya
Karangan Mpu Tantular. Kitab mengisahkan raja Arjuna Sasrabahu dan Patih Sumantri melawan Raksasa Rahwana.
· Kutaramanawa
Ditulis oleh Gajah Mada. Disusun berdasarkan kitab hukum Kutarasastra dan kitab hukum Munawasastra, dan kemudian disesuaikan dengan hukum adat pada waktu itu.

3) Pada zaman Majapahit II
· Pararaton
Pararaton berisi dongeng dan mitos. Pengarangnya sampai sekarang belum diketahui. Terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama berisi riwayat Ken Arok sampai raja-raja Sigasari. Bagian kedua mengisahkan Kerajaan Majapahit mulai dari Raden Wijaya, Jayanegara, pemberontakan Ronggolawe dan Sora, Perang Bubad, dan daftar raja sesudah Hayam Wuruk.
· Tantu Panggelaran
· Calon Arang
· Sundayana
· Paman Canggah
· Usana Bali
· Cerita Parahiyangan
· Bubhuksah dan Gagang Aking
Pada masa Islam muncul banyak karya sastra seperti:
Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Sri Rama, Hikayat Maharaja Rahwana, Hikayat Pancatantra.

Selain kitab ada pula cerita panji seperti:
Syair Ken Tambunan, Lelakon Mahesa Kuitir, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekal Wenengpati, Hikayat Panji Wilakusuma.

Selain itu terdapat pula kitab suluk (kitab yang bercorak magis, berisi ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna terhadap suatu kejadian) seperti:
o Suluk Sukrasa, menceritakan Ki Sukrasa yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.
o Suluk Wujil, berisi wejanagan Sunan Bonang kepada Wujil, bekas abdi Raja Majapahit.
o Suluk Malang Sumirang, berisi pujian dan mengungkapkan seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan YME.

Kitab yang ditulis oleh para pujangga dari kerajaan Islam di Indonesia diantaranya:
a) Kitab Bustanu’Issalatin, ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri dari Aceh.Berisi mengenai adat-istiadat Aceh dan ajaran agama Islam
b) Kitab Sastra Gending, ditulis oleh Sultan Agung dari Mataram. Berisi tentang ajaran-ajaran filsafat. Serta kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata yang bersumber pada kitab Ramayana. Berisi tentang tabiat baik.
c) Kitab Ade Allopiloping Bicaranna Pabbahi’e oleh Amanna Gappa dari Makasar. Berisi tentang hukum-hukum perniagaan bagi kerajaan Makasar.

3. DokumenDokumen adalah surat berharga yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan. Dokumen-dokumen tersebut harus didokumentasikan.
Sedangkan Dokumentasi itu sendiri adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dari berbagai bidang. Dapat berupa pengumpulan bukti-bukti atau keterangan seperti gambar, kutipan, guntingan koran, bahan referensi, dsb.
Dokumen merupakan sesuatu yang sangat berharga baik itu bagi pemakainya maupun pembuatnya.
http://tulisane-rina.blogspot.com/2007/12/rekaman-tertulis-dalam-tradisi.html

Selasa, 23 November 2010

Perkembangan Kehidupan Manusia Purba

Kehidupan manusia purba di Indonesia berdasarkan bukti-bukti peninggalan mengalami perubahan. Perkembangan manusia purba di Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut :
  • Pada masa berburu dan meramu, kehidupan manusia purba pada zaman ini berpindah-pindah untuk mencari bnatang buruan dan bahan makanan yang telah disediakan oleh alam. Alat alat yang digunakan pada masa ini antara lain; kapak berimbas, alat dari serpih, dan kapak genggam.


  • Masa bercocok tanam, pada masa ini manusia sudah meulai hidup menetap dengan membuat rumah-rumah panggung yang bertujuan menghindar dari binatang, serangan musuh atau menghindari banjir. Alat-alt yang digunakan antara lain : mata panah, gerabah, beliung persegi, dan kapak lonjong.


  • Masa pertukangan , pada masa ini selain hidup menetap manusia purba juga sudah mampu membuat alat-alat walaupun masih sangat sederhana. Alat-alat yang dihasilkan pada masa ini antara lain : nekara, kapak perunggu, moko, bejana, patung perunggu, manik-manik, geraah dan mata tombak.


  • Masa mengenal kepercayaan, pada masa ini mulai menyadari akan keterbatasan dirinya sehingga ada kekuatan lain di luar kemampuanya. Kepercayaan tersebut antara lain ; animisme yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang mereka yang telah meninggal, dan dinamisme yaitu kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Pada masa ini untuk upacara ritual manusia purba mengembangkan kebudayaan megalithikum yaitu kebudayaan batu besar dengan cara membuat beberapa bentuk bangunan dari batu yang mempunyai ukuran yang cukup besar.

  • http://museumonline.host56.com/detail.php?id=11


  • Senin, 22 November 2010

    Penemuan fosil-fosil manusia purba

    Penemuan fosil manusia purba yang telah dilakukan oleh Dubois pada
    akhirnya mendorong penemuan-penemuan selanjutnya yang dilakukan oleh
    para peneliti lainnya. Pada tahun 1907-1908, dilakukan upaya penyelidikan
    dan penggalian yang dipimpin oleh Selenka di daerah Trinil (Jawa Timur).
    Penggalian yang dilakukan oleh Selenka memang tidak berhasil menemukan
    fosil manusia. Akan tetapi upaya penggaliannya telah berhasil menemukan
    fosil-fosil hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dapat memberikan dukungan
    untuk menggambarkan lingkungan hidup manusia Pithecanthropus.
    G.H.R von Koenigswald mengadakan penelitian dari tahun 1936 sampai
    1941 di daerah sepanjang Lembah Sungai Solo. Pada tahun 1936 Koenigswald
    menemukan fosil tengkorak anak-anak di dekat Mojokerto. Dari gigi tengkorak
    tersebut, diperkirakan usia anak tersebut belum melebihi 5 tahun. Kemungkinan
    tengkorak tersebut merupakan tengkorak anak dari Pithecanthropus Erectus,
    tetapi von Koenigswald menyebutnya Homo Mojokertensis.
    Pada tahun-tahun selanjutnya, von Koenigswald banyak menemukan
    bekas-bekas manusia prasejarah, di antaranya bekas-bekas Pithecanthropus
    lainnya. Di samping itu, banyak pula didapatkan fosil-fosil binatang menyusui.
    Berdasarkan atas fauna (dunia hewan), von Koeningswald membagi diluvium
    Lembah Sungai Solo (pada umumnya diluvium Indonesia) menjadi tiga lapisan,
    yaitu lapisan Jetis (pleistosen bawah), di atasnya terletak lapisan Trinil
    (pleistosen tengah) dan paling atas ialah lapisan Ngandong (pleistosen
    atas).
    Pada setiap lapisan itu ditemukan jenis manusia purba. Pithecanthropus
    Erectus penemuan E. Dubois terdapat pada lapisan Trinil, jadi dalam lapisan
    pleistosen tengah. Pithecanthropus lainnya ada yang di pleistosen tengah
    dan ada yang di pleistosen bawah. Di plestosen bawah terdapat fosil manusia
    purba yang lebih besar dan kuat tubuhnya daripada Pithecanthropus Erectus,
    dan dinamakan Pithecanthropus Robustus. Dalam lapisan pleistosen bawah
    terdapat pula Homo Mojokertensis, kemudian disebut pula Pithecanthropus
    Mojokertensis. Jenis Pithecanthropus memiliki tengkorak yang tonjolan
    keningnya tebal. Hidungnya lebar dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol.
    Mereka hidup antara 2 setengah sampai 1 setengah juta tahun yang lalu.
    Hidupnya dengan memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pithecanthropus
    masih hidup berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka belum pandai
    memasak, sehingga makanan dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu. Sebagian
    mereka masih tinggal di padang terbuka, dan ada yang tewas dimakan
    binatang buas. Oleh karenanya, mereka selalu hidup secara berkelompok.
    Pada tahun 1941, von Koeningwald di dekat Sangiran Lembah Sungai
    Solo juga, menemukan sebagian tulang rahang bawah yang jauh lebih besar
    dan kuat dari rahang Pithecanthropus. Geraham-gerahamnya menunjukkan
    corak-corak kemanusiaan, tetapi banyak pula sifat keranya. Tidak ada
    dagunya. Von Koeningwald menganggap makhluk ini lebih tua daripada
    Pithecanthropus. Makhluk ini ia beri nama Meganthropus Paleojavanicus
    (mega = besar), karena bentuk tubuhnya yang lebih besar. Diperkirakan
    hidup pada 2 juta sampai satu juta tahun yang lalu.
    Von Koenigswald dan Wedenreich kembali menemukan sebelas fosil
    tengkorak pada tahun 1931-1934 di dekat Desa Ngandong Lembah Bengawan
    Solo. Sebagian dari jumlah itu telah hancur, tetapi ada beberapa yang
    dapat memberikan informasi bagi penelitiannya. Pada semua tengkorak itu,
    tidak ada lagi tulang rahang dan giginya. Von Koeningswald menilai hasil
    temuannya ini merupakan fosil dari makhluk yang lebih tinggi tingkatannya
    daripada Pithecanthropus Erectus, bahkan sudah dapat dikatakan sebagai
    manusia. Makhluk ini oleh von Koeningswald disebut Homo Soloensis
    (manusia dari Solo).
    Pada tahun 1899 ditemukan sebuah tengkorak di dekat Wajak sebuah
    desa yang tak jauh dari Tulungagung, Kediri. Tengkorak ini ini disebut
    Homo Wajakensis. Jenis manusia purba ini tinggi tubuhnya antara 130 –
    210 cm, dengan berat badan kira-kira 30 – 150 kg. Mukanya lebar dengan
    hidung yang masih lebar, mulutnya masih menonjol. Dahinya masih menonjol,
    walaupun tidak seperti Pithecanthropus. Manusia ini hidup antara 25.000
    sampai dengan 40.000 tahun yang lalu. Di Asia Tenggara juga terdapat
    jenis ini. Tempat-tempat temuan yang lain ialah di Serawak (Malaysia Timur),
    Tabon (Filipina), juga di Cina Selatan. Homo ini dibandingkan jenis sebelumnya
    sudah mengalami kemajuan. Mereka telah membuat alat-alat dari batu maupun
    tulang. Untuk berburu mereka tidak hanya mengejar dan menangkap binatang
    buruannya. Makanannya telah dimasak, binatang-binatang buruannya setelah
    dikuliti lalu dibakar. Umbian-umbian merupakan jenis makanan dengan cara
    dimasak. Walaupun masakannya masih sangat sederhana, tetapi ini menunjukkan
    adanya kemajuan dalam cara berpikir mereka dibandingkan dengan jenis
    manusia purba sebelumnya. Bentuk tengkorak ini berlainan dengan tengkorak
    penduduk asli bangsa Indonesia, tetapi banyak persamaan dengan tengkorak
    penduduk asli benua Australia sekarang. Menurut Dubois, Homo Wajakensis
    termasuk dalam golongan bangsa Australoide, bernenek moyang Homo
    Soloensis dan nantinya menurunkan bangsa-bangsa asli di Australia.
    Menurut von Koenigswald, Homo Wajakensis seperti juga Homo Solensis
    berasal dari lapisan bumi pleistosin atas dan mungkin sekali sudah termasuk
    jenis Homo Sapiens, yaitu manusia purba yang sudah sempurna mirip
    dengan manusia. Mereka telah mengenal penguburan pada saat meninggal.
    Berbeda dengan jenis manusia purba sebelumnya, yang belum mengenal
    cara penguburan.
    Selain di Indonesia, manusia jenis Pithecanthropus juga ditemukan di
    belahan dunia lainnya. Di Asia, Pithecanthropus ditemukan di daerah Cina,
    di Cina Selatan ditemukan Pithecanthropus Lautianensis dan di Cina
    Utara ditemukan Pithecanthropus Pekinensis. Diperkirakan mereka hidup
    berturut-turut sekitar 800.000 – 500.000 tahun yang lalu. Di Benua Afrika,
    fosil jenis manusia Pithecanthropus ditemukan di daerah Tanzania, Kenya
    dan Aljazair. Sedangkan di Eropa fosil manusia Pithecanthropus ditemukan
    di Jerman, Perancis, Yunani, dan Hongaria. Akan tetapi, penemuan fosil
    manusia Pithecanthropus yang terbanyak yaitu di daerah Indonesia dan
    Cina.
    Di Australia Utara ditemukan fosil yang serupa dengan manusia jenis
    Homo Wajakensis yang terdapat di Indonesia. Sebuah tengkorak kecil
    dari seorang wanita, sebuah rahang bawah, dan sebuah rahang atas dari
    manusia purba yang ditemukan di Australia itu sangat mirip dengan manusia
    Wajak. Apabila menilik peta Indonesia yang terbentuk pada masa glasial, memperlihatkan bahwa pulau Jawa bersatu dengan daratan Asia dan bukan
    dengan Australia. Oleh karena itu, diperkirakan manusia Wajak ini bermigrasi
    ke Australia dengan menggunakan jembatan penghubung. 

    http://id.shvoong.com/humanities/history/2074205-penemuan-fosil-fosil-manusia-purba/

    FOSIL MANUSIA PURBA DI INDONESIA

    Kepulauan Nusantara sangat terkenal sebagai tempat penemuan fosil manusia purba. Tercatat ada 7 ( tujuh ) jenis fosil yang ditemukan di wilayah Nusantara. Kebanyakan ditemukan di pulau Jawa. Hal ini membuktikan bahwa Jawa merupakan wilayah Nusantara yang paling banyak di “kunjungi” oleh “ Manusia Purba “. Di luar Jawa memang juga ada namun tidak sebanyak di Jawa. Berikut adalah rangkuman dari Fosil-fosil yang ditemukan di Nusantara beserta Penemu, tempat penemuan serta tahun penemuannya yang diambil dari berbagai sumber :
    No Nama Fosil Penemu Tempat Penemuan Tahun Penemuan
    1. Pithecanthropus Erectus
    Eugene Dubois
    Trinil, pinggir Bengawan Solo, dekat Ngawi
    1891
    2. Homo Wajakensis
    Von Reitschotten
    Wajak, Tulung Agung
    1889
    3. Homo Sapien Soloensis (Homo Soloensis).
    Von Koenigswald dan Weidenreich
    Ngandong Blora, Sangiran dan Sambungmacan, Sragen, lembah Sungai Bengawan Solo
    1931 – 1934
    4. Homo Erectus
    Eugene Dubois
    Trinil, Ngawi
    1890
    5. Homo Robustus
    Von Koenigswald
    Ngandong
    1939
    6. Homo Mojokertensis
    Von Koenigswald
    Perning/Mojokerto
    1936
    7. Meganthropus Palaeojavanicus
    Von Koenigswald
    Sangiran, Sra

    Persebaran Manusia Purba di Indonesia

    A. PENDAPAT PARA AHLI MENGENAI ASAL USUL MANUSIA DI KEPULAUAN INDONESIA
    1. Prof. Dr. H. Kern dengan Teori Imigrasi menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia (Campa, Kochin China dan Kamboja) . Hal ini didukung oleh adanya perbandingan bahasa yang digunakan di kepulauan Indonesia yang akar bahasanya adalah bahasa Austronesia.
    2. Van Heine Geldern berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Pendapat ini didkukung oleh adanya artefak-artefak yang ditemukan di Indonesia memiliki banyak persamaan dengan yang ada di daratan Asia.
    3. Moh. Yamin, mengatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Indonesia. Dia melihat bahwa banyak penemuan artefak maupun fosil tertua di Indonesia dalam jumlah yang besar.
    4. Drs. Moh Ali, mengatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina Selatan.
    5. NJ. Krom, berpendapat bahwa asal-usul bangsa Indoensia berasal dari daerah Cina Tengah.
    6. Dr. Brandes, mengatakan bahwa bangsa yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki banyak persamaan dengan bangsa-bangsa di daerah yang terbentang dari sebelah Utara Formosa, sebelah Barat Madagaskar, sebelah Selatan Pulau Jawa-Bali, sebelah Timur sampai tepi Barat Amerika melalui perbandingan bahasa.
    7. Pendapat beberapa ahli, mengatakan bahwa masyarakat yang menempati wilayah-wilayah Indonesia termasuk rumpun bangsa Melayu. Nenek moyang bangsa Indonesia datang melalui dua gelombang yaitu:
    a. Proto Melayu (Melayu Tua), merupakan orang Austronesia yang pertamakali datang ke Indonesia sekitar tahun 1500 SM melalui jalur Barat (Malaysia-Sumatera) dan jalur Timur (Philipina-Sulawesi) dengan membawa kebudayaan kapak persegi (Jalur Barat) dan kapak lonjong (jalur Timur) Bangsa Indonesia yang termasuk keturunan Proto Melayu adalah:
    Suku Dayak, Toraja, Batak, Papua dsb. b. Deutro Melayu ( Melayu Muda ), masuk ke wilyah Indonesia sekitar 400-300 SM melalui jalur Barat, dengan membawa kebudayaan Logam, seperti : Nekara ( Moko ), Kapak corong, juga mengembangkan kebudayaan Megalitik. Bangsa Indonesia yang termasuk keturunan Deutro Melayu adalah : Jawa, Melayu dan Bugis.

    B. PERKEMBANGAN KEHIDUPAN DAN HASIL BUDAYA MANUSIA PURBA DI INDONESIA
    1. Jenis Manusia Purba di Indonesia
    a. Meganthropus Palaeojavanicus Merupakan jenis manusia besar tertua di Pulau Jawa. Ditemukan di daerah Sangiran pada tahun 1941 oleh Van Koenigswald. Hasil temuannya berupa rahang atas dan bawah.
    b. Pithecanthropus 1). Mojokertensis (Robustus) 2). Erectus
    c. Homo Sapiens
    1). Homo Soloensis
    2). Homo Wajakensis.
    2. Hasil Budaya manusia purba
    a. Kebudayaan Material (Kebendaan)
    Berupa alat-alat yang dapat membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hasil kebudayaan mereka pada masa berburu dan mengumpulkan makanan seperti : Kapak genggam,alat serpih dan alat tulang/tanduk. Sedangkan pada masa bercocok tanam berupa Kapak genggam Sumatra ( Pabble ), Kapak Pendek ( Bache Courte ), flakes, dsb. Dan pada masa Perundagian berupa alat-alat dari logam seperti : Kapak corong ( Kapak sepatu ), Nekara, Bejana Perunggu, perhiasan dan manik-manik dari perunggu.
    b. Kebudayaan Immaterial (Rohani)
    Munculnya sistem kepercayaan dalam kehidupan manusia berlangsung sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan melalui penemuan penghormatan terakhir pada orang yang sudah meninggal, kemudian berubah menjadi pemujaan terhadap roh-roh leluhur pada masa bercocok tanam (Animisme dan dinamisme), terlihat dengan adanya hasil kebudayaan megalitik. Dalam perkembangan selanjutnya manusia menyadari dan merasakan adanya kekuatan yang maha besar di luar diri manusia yaitu kekuatan Tuhan (Monotheisme).

    Minggu, 21 November 2010

    Akultrasi Budaya Lokal, Hindu-Buddha dan Islam

    AKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDHA-ISLAM di INDONESIA
    PERKEMBANGAN TRADISI HINDU-BUDHA DI INDONESIA
    Fakta tentang Proses Interaksi Masyarakat
    Indonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan bagi para pedagang India untuk sungguh tinggal di kota pelabuhan-pelabuhan di Indonesia guna menunggu musim yang baik. Mereka pun melakukan interaksi dengan penduduk setempat di luar hubungan dagang. Masuknya pengaruh budaya dan agama Hindu-Budha di Indonesia dapat dibedakan atas 3 periode sebagai berikut.
    1. Periode Awal (Abad V-XI M)
    Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol sedang unsur/ ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak ditemukannya patung-patung dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara dan Mataram Kuno.

    2. Periode Tengah (Abad XI-XVI M)
    Pada periode ini unsur Hindu-Budha dan Indonesia berimbang. Hal tersebut disebabkan karena unsur Hindu-Budha melemah sedangkan unsur Indonesia kembali menonjol sehingga keberadaan ini menyebabkan munculnya sinkretisme (perpaduan dua atau lebih aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman kerajaaan Jawa Timur seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit. Di Jawa Timur lahir aliran Tantrayana yaitu suatu aliran religi yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha.
    Raja bukan sekedar pemimpin tetapi merupakan keturunan para dewa. Candi bukan hanya rumah dewa tetapi juga makam leluhur.
    3. Periode Akhir (Abad XVI-sekarang)
    Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode sebelumnya, sedangkan unsur Hindu-Budha semakin surut karena perkembangan politik ekonomi di India. Di Bali kita dapat melihat bahwa Candi yang menjadi pura tidak hanya untuk memuja dewa. Roh nenek moyang dalam bentuk Meru Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu sebagai manifestasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Upacara Ngaben sebagai objek pariwisata dan sastra lebih banyak yang berasal dari Bali bukan lagi dari India.
    AKULTURASI
    Masuknya budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnya Akulturasi. Akulturasi merupakan perpaduan 2 budaya dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. Kebudayaan Hindu-Budha yang masuk di Indonesia tidak diterima begitu saja melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena:

    1. Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.

    2. Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local genius merupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

    Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di Indonesia. Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Hasil akulturasi tersebut tampak pada.

    1. Bidang Sosial
    Setelah masuknya agama Hindu terjadi perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dengan dikenalnya pembagian masyarakat atas kasta.

    2. Ekonomi
    Dalam ekonomi tidak begitu besar pengaruhnya pada masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena masyarakat telah mengenal pelayaran dan perdagangan jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia.

    3. Sistem Pemerintahan
    Sebelum masuknya Hindu-Budha di Indonesia dikenal sistem pemerintahan oleh kepala suku yang dipilih karena memiliki kelebihan tertentu jika dibandingkan anggota kelompok lainnya. Ketika pengaruh Hindu-Budha masuk maka berdiri Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang berkuasa secara turun-temurun. Raja dianggap sebagai keturuanan dari dewa yang memiliki kekuatan, dihormati, dan dipuja. Sehingga memperkuat kedudukannya untuk memerintah wilayah kerajaan secara turun temurun. Serta meninggalkan sistem pemerintahan kepala suku.

    4. Bidang Pendidikan
    Masuknya Hindu-Budha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam bidang pendidikan. Sebab sebelumnya masyarakat Indonesia belum mengenal tulisan. Namun dengan masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat Indonesia mulai mengenal budaya baca dan tulis.
    Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu :
    ü Dengan digunakannya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Bahasa tersebut terutama digunakan di kalangan pendeta dan bangsawan kerajaan. Telah mulai digunakan bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Bali Kuno yang merupakan turunan dari bahasa Sansekerta.
    ü Telah dikenal juga sistem pendidikan berasrama (ashram) dan didirikan sekolah-sekolah khusus untuk mempelajari agama Hindu-Budha. Sistem pendidikan tersebut kemudian diadaptasi dan dikembangkan sebagai sistem pendidikan yang banyak diterapkan di berbagai kerajaan di Indonesia.
    ü Bukti lain tampak dengan lahirnya banyak karya sastra bermutu tinggi yang merupakan interpretasi kisah-kisah dalam budaya Hindu-Budha. Contoh :
    · Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha
    · Empu Kanwa dengan karyanya Arjuna Wiwaha
    · Empu Dharmaja dengan karyanya Smaradhana
    · Empu Prapanca dengan karyanya Negarakertagama
    · Empu Tantular dengan karyanya Sutasoma.
    ü Pengaruh Hindu Budha nampak pula pada berkembangnya ajaran budi pekerti berlandaskan ajaran agama Hindu-Budha. Pendidikan tersebut menekankan kasih sayang, kedamaian dan sikap saling menghargai sesama manusia mulai dikenal dan diamalkan oleh sebagian masyarakat Indonesia saat ini.
    Para pendeta awalnya datang ke Indonesia untuk memberikan pendidikan dan pengajaran mengenai agama Hindu kepada rakyat Indonesia. Mereka datang karena berawal dari hubungan dagang. Para pendeta tersebut kemudian mendirikan tempat-tempat pendidikan yang dikenal dengan pasraman. Di tempat inilah rakyat mendapat pengajaran. Karena pendidikan tersebut maka muncul tokoh-tokoh masyarakat Hindu yang memiliki pengetahuan lebih dan menghasilkan berbagai karya sastra.
    Rakyat Indonesia yang telah memperoleh pendidikan tersebut kemudian menyebarkan pada yang lainnya. Sebagian dari mereka ada yang pergi ke tempat asal agama tersebut. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan melakukan ziarah. Sekembalinya dari sana mereka menyebarkan agama menggunakan bahasa sendiri sehingga dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat asal.
    Agama Budha tampak bahwa pada masa dulu telah terdapat guru besar agama Budha, seperti di Sriwijaya ada Dharmakirti, Sakyakirti, Dharmapala. Bahkan raja Balaputra dewa mendirikan asrama khusus untuk pendidikan para pelajar sebelum menuntut ilmu di Benggala (India)

    5. Kepercayaan
    Sebelum masuk pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia, bangsa Indonesia mengenal dan memiliki kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang (animisme dan dinamisme). Masuknya agama Hindu-Budha mendorong masyarakat Indonesia mulai menganut agama Hindu-Budha walaupun tidak meninggalkan kepercayaan asli seperti pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan dewa-dewa alam. Telah terjadi semacam sinkritisme yaitu penyatuaan paham-paham lama seperti animisme, dinamisme, totemisme dalam keagamaan Hindu-Budha.
    Contoh :
    Di Jawa Timur berkembang aliran Tantrayana seperti yang dilakukan Kertanegara dari Singasari yang merupakan penjelmaaan Siwa. Kepercayaan terhadap roh leluhur masih terwujud dalam upacara kematian dengan mengandakan kenduri 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun dan 1000 hari, serta masih banyak hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.

    6. Seni dan Budaya
    Pengaruh kesenian India terhadap kesenian Indonesia terlihat jelas pada bidang-bidang dibawah ini:

    Seni Bangunan
    Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Contohnya candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa. Sedangkan candi Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat peti pripih dan abu jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

    Seni Rupa
    Seni rupa tampak berupa patung dan relief.
    Patung dapat kita lihat pada penemuan patung Budha berlanggam Gandara di Bangun Kutai. Serta patung Budha berlanggam Amarawati di Sikending (Sulawesi Selatan). Selain patung terdapat pula relief-relief pada dinding candi seperti pada Candi Borobudur ditemukan relief cerita sang Budha serta suasana alam Indonesia.

    Seni Sastra dan Aksara
    Periode awal di Jawa Tengah pengaruh sastra Hindu cukup kuat.
    Periode tengah bangsa Indonesia mulai melakukan penyaduran atas karya India.
    Contohnya: Kitab Bharatayudha merupakan gubahan Mahabarata oleh Mpu Sedah dan Panuluh. Isi ceritanya tentang peperangan selama 18 hari antara Pandawa melawan Kurawa. Para ahli berpendapat bahwa isi sebenarnya merupakan perebutan kekuasaan dalam keluarga raja-raja Kediri.
    Prasasti-prasasti yang ada ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Bahasa Sansekerta banyak digunakan pada kitab-kitab kuno/Sastra India. Mengalami akulturasi dengan bahasa Jawa melahirkan bahasa Jawa Kuno dengan aksara Pallawa yang dimodifikasi sesuai dengan pengertian dan selera Jawa sehingga menjadi aksara Jawa Kuno dan Bali Kuno. Perkembangannya menjadi aksara Jawa sekarang serta aksara Bali. Di kerajaan Sriwijaya huruf Pallawa berkembang menjadi huruf Nagari.

    7. Bidang Teknologi
    Masyarakat Indonesia dari sebelum masuknya agama Hindu-Budha sebenarnya sudah memiliki budaya yang cukup tinggi. Dengan masuknya pengaruh budaya Hindu-Budha di Indonesia semakin mempertinggi teknologi yang sudah dimiliki bangsa Indonesia sebelumnya. Pengaruh Hindu-Budha terhadap perkembangan teknologi masyarakat Indonesia terlihat dalam bidang kemaritiman, bangunan dan pertanian.

    Perkembangan kemaritiman terlihat dengan semakin banyaknya kota-kota pelabuhan, ekspedisi pelayaran dan perdagangan antar negara. Selain itu, bangsa Indonesia yang awalnya baru dapat membuat sampan sebagai alat transportasi kemudian mulai dapat membuat perahu bercadik.

    Perpaduan antara pengetahuan dan teknologi dari India dengan Indonesia terlihat pula pada pembuatan dan pendirian bangunan candi baik candi dari agama Hindu maupun Budha.

    Bangunan candi merupakan hasil karya ahli-ahli bangunan agama Hindu-Budha yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Selain itu terlihat dalam penulisan prasasti-prasastri pada batu-batu besar yang membutuhkan keahlian, pengetahuan, dan teknik penulisan yang tinggi. Pengetahuan dan perkenalan teknologi yang tinggi dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

    Dalam bidang pertanian, tampak dengan adanya pengelolaan sistem irigasi yang baik mulai diperkenalkan dan berkembang pada zaman masuknya Hindu-Budha di Indonesia. Tampak pada relief candi yang menggambarkan teknologi irigasi pada zaman Majapahit.

    8. Sistem Kalender
    Diadopsi dari sistem kalender/penanggalan India. Hal ini terlihat dengan adanya :
    · Penggunaan tahun Saka di Indonesia. Tercipta kalender dengan sebutan tahun Saka yang dimulai tahun 78 M (merupakan tahun Matahari, tahun Samsiah) pada waktu raja Kanishka I dinobatkan jumlah hari dalam 1 tahun ada 365 hari. Oleh orang Bali, tahun Saka tidak didasarkan pada sistem Surya Pramana tetapi sistem Chandra Pramana (tahun Bulan, tahun Kamariah) dalam 1 tahun ada 354 hari. Musim panas jatuh pada hari yang sama dalam bulan Maret dimana matahari, bumi, bulan ada pada garis lurus. Hari tersebut dirayakan sebagai Hari Raya Nyepi.
    · Ditemukan Candrasangkala/ Kronogram ada dalam rangka memperingati peristiwa dengan tahun/ kalender saka. Candrasangkala adalah angka huruf berupa susunan kalimat/ gambaran kata. Bila berupa gambar harus diartikan dalam bentuk kalimat.
    Seni Ukir

    Seni Ukir Islam disebut Kaligrafi, yang dapat dipahatkan pada kayu.
    Contoh :
    ☻Kaligrafi/ukiran yang dipahatkan pada dinding depan Masjid Mantingan, Jepara

    ☻Di Masjid Cirebon terdapat pahatan berbentuk harimau

    Pahatan berupa gambar tersebut disebut Arabesk

    SENI SASTRA
    Tampak pada karya sastra di Selat Malaka dan Pulau Jawa.
    Karya sastra yang berkembang:
    1. Suluk,yaitu karya sastra yang berisi ajaran-ajaran tasawuf. Contoh : Suluk Sukrasa, Suluk Wujil

    2. Hikayat, yaitu dongeng atau cerita rakyat yang sudah ada sebeluym masuknya Islam.

    Contoh: Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Panji Semirang

    3. Babad, yaitu kisah sejarah yang terkadang memuat silsilah para raja suatu kerajaan Islam

    Contoh: Babad tanah Jawi, Babd Cirebon, Babad Ranggalawe

    SISTEM PEMERINTAHAN
    Digunakan aturan-aturan Islam dalam pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Terbukti dengan adanya :

    ü Raja Mataram Islam awalnya bergelar Sunan/Susuhunan, artinya dijunjung

    ü Raja akan diberi Gelar Sultan jika telah diangkat atas persetujuan khalifah yang memerintah di Timur Tengah

    ü Terdapat gelar lain yaitu Panembahan, Maulana.

    SOSIAL

    v Mulai dikenal sistem demokrasi

    v Tidak mengenal adanya sistem kasta

    v Tidak mengenal perbedaan gologan dalam masyarakat

    FILSAFAT
    Setelah Islam lahir berkembanglah Ilmu filsafat yang berfungsi untuk mendukung pendalaman agama Islam.

    Ø Abad 8 M, lahir dasar-dasar Ilmu Fikih

    Ø Fikih, merupakan ilmu yang mempelajari hukum dan peraturan yang mengatur hak dan kewajiban umat Islam terhadap Tuhan dan sesama manusia.

    Dengan Fikih diharapkan umat Islam dapat hidup sesuai dengan kaidah Islam.

    Ø Abad ke-10 M, lahir dasar-dasar Ilmu Qalam dan Tasawuf

    Ø Qalam, merupakan ajaran pokok Islam tentang keesaan Tuhan, Ilmu teologi/Ilmu ketuhanan/ Ilmu Tauhid.

    Ø Asal mula lahirnya tasawuf karena pencarian Allah karena kecintaan dan kerinduan pada Allah.

    Ø Tasawuf kemudian berkembang menjadi aliran kepercayaan.
    http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/08/akulturasi-budaya-hindu-budha-islam-di.html

    GAPI

    Gabungan Politik Indonesia (GAPI) adalah suatu organisasi payung dari partai-partai dan organisasi-organisasi politik. GAPI berdiri pada tanggal 21 Mei 1939 didalam rapat pendirian organisasi nasional di Jakarta.
    Walaupun tergabung dalam GAPI, masing-masing partai tetap mempunyai kemerdekaan penuh terhadap program kerjanya masing-masing dan bila timbul perselisihan antara partai-partai, GAPI bertindak sebagai penengah.

    [sunting] Organisasi

    Untuk pertama sekali pimpinan dipegang oleh Muhammad Husni Thamrin, Mr. Amir Syarifuddin, Abikusno Tjokrosujono.
    Di dalam anggaran dasar di terangkan bahwa GAPI berdasar kepada:
    1. Hak untuk menentukan diri sendiri
    2. Persatuan nasional dari seluruh, bangsa Indonesia dengan berdasarkan kerakyatan dalam paham politik, ekonomi dan sosial.
    3. Persatuan aksi seluruh pergerakan Indonesia

    [sunting] Sejarah

    Di dalam konfrensi pertama GAPI tanggal 4 Juli 1939 telah dibicarakan aksi GAPI dengan semboyan "Indonesia berparlemen".
    September 1939 GAPI mengeluarkan suatu pernyataan yang kemudian dikenal dengan nama Manifest GAPI. Isinya mengajak rakyat Indonesia dan rakyat negeri Belanda untuk bekerjasama menghadapi bahaya fasisme dimana kerjasama akan lebih berhasil apabila rakyat Indonesia diberikan hak-hak baru dalam urusan pemerintahan. Yaitu suatu pemerintahan dengan parlemen yang dipilih dari dan oleh rakyat, dimana pemerintahan tersebut bertanggungjawab kepada parlemen tersebut.
    Untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, GAPI menyerukan agar perjuangan GAPI disokong oleh semua lapisan rakyat Indonesia.
    Seruan itu disambut hangat oleh pers Indonesia dengan memberitakan secara panjang lebar mengenai GAPI bahkan sikap beberapa negara di Asia dalam menghadapi bahaya fasisme juga diuraikan secara khusus.
    GAPI sendiri juga mengadakan rapat-rapat umum yang mencapai puncaknya pada tanggal 12 Desember 1939 dimana tidak kurang dari 100 tempat di Indonesia mengadakan rapat memprogandakan tujuan GAPI.
    Selanjutnya GAPI membentuk Kongres Rakyat Indonesia (KRI). Kongres Rakyat Indonesia diresmikan sewaktu diadakannya pada tanggal 25 Desember 1939 di Jakarta. Tujuannya adalah "Indonesia Raya" bertujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan kesempatan cita-citanya.
    Dalam kongres ini berdengunglah suara dan tututan "Indonesia berparlemen".
    Keputusan yang lain yang penting diantaranya, penerapan Bendera Merah Putih dan Lagu Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu persatuan Indonesia dan peningkatan pemakaian bahasa Indonesia bagi rakyat Indonesia.
    Walaupun berbagai upaya telah diadakan oleh GAPI namun tidak membawa hasil yang banyak. Karena situasi politik makin gawat akibat Perang Dunia II, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengeluarkan peraturan inheemse militie dan memperketat izin mengadakan rapat.